Blog Remaja Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Jumat, 30 November 2012

Cerpen : PARAKARA Parodi Debut KARA Indonesia (part 1)

cerpen-parodi-korea.jpg

�Pelakunya kamu, kan?�

Kaki Denny gemetar. Tatapan gadis cantik di depannya ini seperti bisa membunuhnya dua kali. Pertama, senyum beraura bidadari yang mampu menyayat dada seorang lelaki jomblo penuh derita seperti Denny, hingga Denny mati dalam keterpanaan. Kedua, tatapan itu membuat Denny mati kutu saat ia dituduh telah melakukan suatu kesalahan, atau mungkin kejahatan.

�Tu-tunggu, aku tidak mengerti maksudmu,� Denny menyangkali.

�Jangan bohong, semua sudah jelas!� tegas gadis itu masih dengan tatapan menusuknya pada Denny. Paras cantiknya masih tetap bersinar-sinar seperti putih kulitnya yang dipijari hangat lampu ruangan. Sebuah kelebihan fisik yang wajar dimilikinya sebagai seorang artis. Ditambah lagi, ia adalah artis dari negeri Korea. Nicole Jung. Satu dari lima anggota girlband bernama KARA.

�Duh� kok iso aku ketauan ngene?� Gumam Denny dalam bahasa Jawa kesehariannya.

�Sampeyan ngomong opo?� tegas Nicole sekali lagi yang menyadari gerak-gerik aneh Denny.

�Kok kamu bisa bahasa Jawa?�

�Ah, iya� Seharusnya tidak. Maaf, lanjut saja.�

�Oh, tak apa-apa, Anda saja yang lanjutkan.�

�Baik, kulanjutkan,� tatapan Nicole kembali tajam. Denny kembali menggemetarkan tubuhnya. �Baik, begini asinanlis dariku��

�Analisis��

�Ya, analisis. Pertama, bagian bawah bajumu yang biasanya dimasukkan rapi ke dalam celana sekarang keluar di pinggang sebelah kiri. Membuktikan bahwa kau baru saja dari kamar mandi. Kedua, hela napasmu yang tak teratur saat kita berjumpa di ruangan ini membuktikan kamu terburu-buru ke ruangan ini. Padahal tidak ada sesuatu yang membuatmu buru-buru sekarang kecuali satu hal, ada yang ingin kamu hilangkan di ruangan ini! Dan ketiga, ketika aku datang, cuma ada kamu di sini!� Jelas Nicole seperti seorang detektif yang mengungkapkan kejahatan.

Keringat Denny tambah mengucur, ia tak menyangka akan ketahuan seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Satu lagi gadis cantik masuk ke sana.

�Ada apa ini?� Tanya gadis yang baru datang itu dua langkah setelah membuka pintu ruangan.

�Ah, Gyuri-unnie !� teriak Nicole girang. Park Gyuri, dialah pemimpin grup KARA. Dibandingkan Nicole, Gyuri memiliki pembawaan yang lebih dewasa. Sifatnya yang juga keibuan menjadikannya sosok ideal sebagai pemimpin sekaligus ibu sekaligus kakak untuk anggota KARA yang lainnya.

�Kenapa, Nicole?�

�Itu� Si Andin..�

�Denny..�

�Iya, Denny� kentut tapi nggak mau ngaku. Baunya itu lho, kaya bau gingseng..�

�Gingseng? Jigong kali..�

�Bener, jigong��

Nicole menumpahkan wajahnya ke pundak Gyuri. Gyuri mengelusnya dan sedetik kemudian ia memandang Denny dengan wajah datar. Denny kian bergidik. Dalam bayangannya, Gyuri lebih galak dibandingkan Nicole. Ia tak menyangka kentutnya akan membawa masalah. Entah sudah empat puluh kali ia mengutuk bokongnya di dalam hati.

***

Apes beribu-ribu apes. Maksud hati mengadu nasib di ibukota, namun selalu saja Denny mendapat masalah saat ia melakukan pekerjaannya. Sedikit berbeda dengan orang lain yang selalu penuh cerita sulitnya mencari kerja di Jakarta, Denny tergolong beruntung. Ia lebih berpendidikan dan luwes dalam meyakinkan khalayak sehingga mudah pula mendapat pekerjaan. Ia pernah menjadi barista, office boy sebuah kantor, agen travel, satpam mal, pesulap, manajer perusahaan komputer, pemanjat pohon kelapa, dan kini ia mendapat kehormatan sebagai orang yang diutus mengurus banyak hal oleh promotor yang menghadirkan artis luar negeri ke Jakarta. Dan kali ini yang datang adalah girlband asal Korea, KARA, yang kebetulan ingin melakukan debut di Indonesia. Denny bertugas untuk menjadi apa saja yang diminta personel KARA.

�Saya lapar, apakah nanti kita akan makan untuk kenyang?� tanya Nicole dengan bahasa Indonesia yang gramatikalnya belum jelas. Saat itu di dalam mobil, Denny menjemput KARA langsung di bandara.

�Tentu, kami sudah menyiapkan semuanya untuk kalian.� Denny menangkap maksud perkataan Nicole.

�Termasuk jaminan hari tua?� tanya Nicole lagi. Denny terhenyak. Kemudian heninglah sepanjang jalan.

Setiba di hotel, kesabaran Denny diuji kala pertanyaan office boy membuat Denny emosi.

�Single, Mas?� tanya resepsionis.

�Hehe� menurut mbak?� Denny menjawab malu-malu.

�Maaf, Mas, kami sudah tidak menerima yang single.�

�OKE! AKU SINGLE! AKU EMANG JOMBLO! KENAPA DIDISKRIMINASI, HAH?!� orang-orang di sekitar mendadak terkejut oleh bentakan Denny. Personel KARA merinding. Mereka seolah sedang melakukan tur wisata dengan seorang buronan polisi.

�Tu-tunggu dulu, Mas, maksud saya, untuk kamar single bed sudah penuh. Jadi kami tak menerima booking itu lagi.� Resepsion itu berkeringat dingin. Denny tersipu telah salah sangka. Mungkin karena seumur-umur belum pernah berpacaran, ia jadi amat sensitif dengan kata-kata yang berhubungan dengan �jomblo�.

�Ta-tapi beberapa kamar untuk artis Korea yang saya booking dua bulan lalu sudah siap kan?� Denny mencoba mencairkan suasana.

�Sudah, Mas��

Denny menerima tujuh kartu kunci kamar hotel untuk personel KARA dan staf mereka. Sedang Denny sengaja memesan kamar satu hotel agar lebih sigap untuk �disuruh-suruh�. Memasuki kamar, Denny seolah menemukan surga. Ya, dia memang sangat ingin istirahat. Iapun menggelar tikar di lantai, lalu menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Entah apa maksudnya ia menggelar tikar itu.

Malam berlalu, berganti pagi hingga tengah hari ini, di ruangan hotel yang akan digunakan personel KARA untuk melakukan jumpa pers. Ruang yang luas dengan kursi yang berderet rapi. Masih kosong sebab acara itu akan dilakukan beberapa jam lagi. Kebetulan Denny tengah mengecek ruangan itu, tiba-tiba angin di perutnya minta keluar. Brut! Terkabullah! Dan tak diduga baunya masih membekas sampai Nicole masuk ke dalamnya. Terjadilah segala yang terjadi di awal. Denny harus menghadapi tatapan mata Gyuri.

***

�Lalu, apa yang sebenarnya jadi masalah sekarang?� Gyuri mulai menelusuri permasalahan. Denny meneguk liurnya, tak jelas, karena gugup atau terpana melihat dua gadis cantik di depannya sekarang.

�Ya tadi, Denny buang angin. Kasihan cicak ini�� manja Nicole sambil menunjuk cicak yang tiba-tiba jatuh dari langit-langit.�

�Ma-maaf, tapi sungguh, aku tak sengaja!� bela Denny.

�Nicole�� Gyuri berujar pelan. �Apakah kamu tak pernah buang angin?� lanjutnya sambil mengibas rambutnya yang berurai cantik.

�Pe-pernah��

�Lalu, apa ketika orang lain buang angin, kamu langsung putus asa untuk bernyanyi dan menari lagi.�

�Ti-tidak��

�Lalu andai dulu Wrigth bersaudara buang angin di tengah percobaan pembuatan pesawat, apakah sekarang kita tidak bisa menikmati penerbangan pesawat?�

�A-aku tidak tahu soal itu��

�Nicole�� lengan Gyuri tahu-tahu sudah melingkar di pundak Nicole, suaranya yang lembut nan bijak kembali berembus ke telinga Nicole. �..buang angin itu manusiawi. Sudahlah, lagi pula kalau bukan dengan Denny, dengan siapa kita bisa mencoba rendang di rumah makan Padang di seberang?� Nicole diam saja. Sebagai gadis yang amat doyan makan, ia hanya mencoba membenarkan kata-kata Gyuri. Tak lama berselang, ia meluruskan pandangannya telak ke mata Denny, tersenyum manis. �Maaf, ya�� Denny mematung. Air matanya turun ke pipi. Ia bersyukur urusan ini tidak sampai dibawa ke pengadilan. Nicole mendekati Denny, mengangkat kelingking, mengupil, lalu menyodorkannya pada Denny. �Kita baikan, ya��

Sementara itu, beberapa orang mulai bolak-balik memasuki ruangan, mengatur meja, makanan ringan, dan banyak hal lainnya. Gyuri memberi kode pada Denny bahwa mereka minta diantarkan untuk kembali ke kamar dan bersiap melakukan jumpa pers.

***

Di kamar, tiga anggota KARA lainnya sudah sibuk berdandan. Seungyeon nampak sibuk di depan cermin kamar mandi dengan berhanduk kimono merah jambu yang membuatnya tampak semakin manis. Gadis bernama lengkap Han Seungyeon ini adalah anggota KARA termungil, meski usianya yang tertua kedua setelah Gyuri, namun paras imutnya dapat membuat orang mengira dialah yang termuda di KARA. Masih di depan cermin kamar mandi, ia dikejutkan dengan gedoran pintu.

�Seungyeon- unnie , lama sekali di dalam��

Sebenarnya Seungyeon sudah selesai mandi dari tadi, namun ia masih bersedih karena bulu sikat gigi kesayangannya hilang delapan helai.

�Iya, aku segera keluar�� Teriak Seungyeon dengan suara agak parau.

Di luar, yang menggedor pintu tadi adalah Goo Hara. Panggilannya adalah Hara, anggota KARA yang memiliki tubuh paling ramping. Ia selalu tampak manis dengan rambut panjangnya. Dancer handal yang juga seumuran dengan Nicole. Hara seperti bermasalah dengan perutnya, seperti menahan nyeri.

�Kenapa, Hara-unnie ?� Jiyoung menyadari gerak-gerik aneh dari Hara.

�Tidak apa-apa, hanya sedikit kurang enak badan sejak sampai di sini. Paling hanya jet lag.� Wajah Hara memang terlihat pucat.

�Maklumlah, unnie, musimnya juga sedang beda. Korea musim dingin, di sini panasnya minta ampun.� Jiyoung memperhatikan wajahnya di cermin dengan seksama seraya mengusap bedak ke pipi kanan dan kirinya. Kang Jiyoung, jika ditanya siapa anggota KARA termuda, Jiyounglah orangnya. Tubuhnya paling bongsor dan senang sekali bertingkah lucu, tak heran ia dijuluki �Giant Baby�.

�Jangan bicara musim, kupikir Indonesia ini Negara dengan musim paling memusingkan.� Hara masih meremas perutnya.

�Kok gitu?� Jiyoung menghentikan sapuan bedak di pipinya, menoleh ke arah Hara.

�Lihat saja, orang Indonesia mengaku bermusim hujan dan kemarau. Tapi nyatanya, tadi kita disuruh Denny mencoba rambutan dengan berkata sekarang musim rambutan. Lalu makan durian lalu mengatakan sedang musim durian. Tambah lagi aku tak mengerti sewaktu Denny bercerita masa kecilnya dengan kata-kata musim kelereng, musim layangan, atau musim lainnya. Pusing nggak, Jiyoung?� Jiyoung buru-buru kembali menghadap cermin, menyapukan bedak ke pipi, pura-pura tak mendengar kerumitan pikiran Hara. Sementara Seungyeon akhirnya keluar dari kamar mandi. Spontan Hara menyeruduk masuk ke kamar mandi.

Ketukan pintu, Gyuri dan Nicole tiba di kamar. Dengan sigap Gyuri meminta seluruh anggota KARA bersiap untuk jumpa pers yang akan langsung dilanjutkan konser mereka disalah satu gedung di pusat kota Jakarta. Sementara di luar kamar, Denny mondar-mandir dengan ponsel di telinga. Ia terlihat amat sibuk menerima telepon dari sana-sini.

�Iya, sudah saya bilang! Tempe penyet kemarin sudah saya lunaskan, kerupuknya yang belum! Tolong dilihat lagi deh catatannya.� Gerutu Denny di ponsel.

***

Lampu blitz berkilat-kilatan di ruangan. Gyuri, Seungyeon, Nicole, Hara, dan Jiyoung sudah duduk rapi menyambut pertanyaan para wartawan. Ya, hari bersejarah akan segera dimulai. KARA akan melakukan debut di Indonesia.

�Jadi, nama album kalian adalah �Bukan Nyiur�. Mengapa memilih nama itu?� Tanya seeorang wartawan.

�Nama kelompok kami seringkali dikira merek air perasan kelapa alias santan. Jadi untuk memperkenalkan diri, kami ingin melenyapkan anggapan itu terlebih dahulu dan memberi judul yang puitis.� Jawab Gyuri lancar.

�Single kalian di album ini berjudul �Jalmosdoen Juso� , sebenarnya apa arti judul tersebut? Menceritakan tentang apa?� Tanya wartawan yang lain.

�Begini...� Seungyeon menyambut pertanyaan tersebut. �Jadi pada lagu tersebut kami sudah memiliki video klip yang menceritakan seseorang yang mencari kekasihnya yang lama tak berjumpa. Namun ia tak menemukannya juga. Usut punya usut, alamat yang ia miliki ternyata bukan alamat yang benar. Dalam bahasa Inggris, judul lagu ini adalah �Fake Adress�. � Jelas Seungyeon.

�Berarti, lagu ini berjudul �Alamat Palsu�?� potong wartawan lain.

�Kira-kira begitulah menurut google translate.� Seungyeon menjawab cepat. �Ada pertanyaan lagi?�

Puluhan wartawan mengangkat tangannya. Tanya jawab berlangsung terus menerus beriring teriakan Kamilia�sebutan untuk fans KARA�yang telah menanti di luar hotel. Pertanyaan datang bertubi-tubi seperti Rambo dan senjatanya, pertanyaan turun bak rinai hujan yang berderu derai deras tiada menampakkan pertanda redup reda berjatuhan di atas genting dan setumpuk jerami yang melengkungi gubuk tua. Akhirnya setelah menghadapi 4.584.876 pertanyaan, 2.349.392 saran, 542 kritik, 182 emas, 151 perak, dan 143 perunggu, jumpa pers selesai juga. Seluruh personel KARA buru-buru meninggalkan ruangan untuk melanjutkan agenda menuju tempat konser.

Dengan sigap Denny menghentikan mobilnya di depan hotel sehingga ketika KARA keluar dapat langsung meloloskan diri dari serbuan para fans yang sudah menanti penuh histeris. Di kerumunan fans itu, reporter sebuah infotainment mencoba mewawancarai salah seorang fans yang terus melambai-lambaikan tangan pada personil KARA yang baru saja keluar dari hotel.

�Mas, siapa namanya?�

�Andi Wirambara.�

�Mas penggemar KARA?�

�Emang di sini saya ngapain, Mbak? Kyaa! Gyuri!�

�Oh, maaf sudah tentu Anda fans KARA. Apakah mas senang KARA ke Indonesia?�

�Mbak ngasih pertanyaan yang bikin mikir dikit dong, Mbak� Oh my God� Jiyouungg!!�

�Hehe� Pasti nanti bakal nonton konsernya KARA dong..�

�NICOLEE..! NICOLE..!�

�Mas?�

�Seungyeeooon!! Haraaaaa!!�

�Mas? Mas?�

Kerumunan fans semakin brutal seiring satu persatu masuk ke dalam mobil. Reporter tadi tiba-tiba menghilang tenggelam oleh kerumunan. Terinjak-injak.

Mobil beranjak pelan, meninggalkan kerumunan fans yang tentu diam-diam akan mengikuti pula dari belakang. Menuju panggung istimewa yang memulai hari baru untuk KARA dan penggemarnya di Indonesia. Sebuah debut yang telah dinanti sejak lama, dan hampir saja terlaksana dari dulu andai Negara Api tidak menyerang.

(***)

*(keterangan: Unnie - Sebutan/panggilan kepada perempuan yang lebih tua.

PARAKARA Parodi Debut KARA Indonesia (part 1)

Oleh Andi M E Wirambara

Punya puisi, cerpen, ataupun artikel yang ingin ditampilkan di CARAOO.com? Kirim saja ke redaksi CARAOO.com di zanabid@live.com. Setiap puisi, cerpen, ataupun artikel yang ditampilkan, akan diikutkan link menuju akun facebook/twitter milikmu.

Unknown Cerpen

Cerpen : Lelaki yang Menunggu Ponselnya Berbunyi

cerpen-lelaki.jpg

Sore yang sederhana. Duduk, dan merindu.

Minuman soda itu langsung meluncur dari dalam botol menuju kerongkongannya yang dahaga. Tidak, sebenarnya ia tidak benar-benar kehausan. Sudah ada beberapa teguk sebelum tegukan terakhir ini yang cukup melipur gerah tubuhnya. Pukul tiga sore, adalah jam matahari bermain-main dengan terik dan bimbang untuk membenamkan dirinya nanti. Ah, bahkan matahari tidak benar-benar membenamkan diri. Tersebab bumi berputar, teriknya masih bisa menjahili dunia bagian lain. Tidak lagi di sini. Di taman kota tempat lelaki ini duduk. Sendiri.

Lehernya terus bergerak mengikuti ke mana arah pandangan matanya mendelik. Sesekali ke arah pedagang kaki lima yang berderet menjajakan jajanan, sesekali ke anak-anak kecil yang bermain lompat-lompatan, dan kini ia meluaskan fokus matanya ke arah parkiran. Lebih jauh lagi, ke arah jalan raya yang dilalui kendaraan yang berlalu-lalang. Konsentrasi pandangannya buyar seketika saat ada getar diiringi nada lagu muncul dari saku celananya. Ya, ini yang sebenarnya tengah ia tunggu. Saat ponselnya berbunyi. Ikon kecil bergambar amplop muncul di layarnya, sebuah SMS yang belum dibaca.

�Kenapa?� begitu isi pesan singkat�yang memang amat singkat�tertayang di ponselnya. Lelaki itu menunjukkan raut yang setengah-setengah. Setengah bibirnya tersenyum sangat kecil. Setengah lagi seolah memaklumi kekecewaan. Tiga puluh menit yang lalu, usai memarkirkan sepeda motornya, ia melangkah menuju bangku yang agak lebih ke dalam taman. Mengetikkan sesuatu di handphonenya, yang balasannya baru saja tiba.

�Harusnya aku yang tanya. Kenapa teleponku tak kau angkat? SMS saja baru sekarang dibalas�� Lelaki itu membalas pesan singkat itu dengan ekspresi datar. Sebuah raut yang tidak akan bisa ditebak secara pasti oleh penerima pesan singkatnya nanti�yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Dan memang, dunia mungkin hanya seluas layar ponsel. Seorang ibu bisa memberi kecupan, sepasang kekasih mampu saling membunuh perasaan.

Tiga menit tanpa balasan, ia berkali-kali menekan tombol handphonenya setiap kali lampunya meredup. Mengusap-usap layarnya dengan menggunakan jempol, memandang sayu wallpaper yang memperlihatkan sosok sepasang laki-laki dan perempuan yang saling merangkul.

�Tina, dua puluh tiga juni dua ribu sembilan. Kau dan aku,� gumamnya tiba-tiba. Dahan pohon yang sedari tadi memayungi lelaki ini kian menunduk, seolah hendak mendengar gumaman lelaki itu lebih jelas.

Ia mencoba mengirim ulang pesan singkatnya. Barangkali yang sebelumnya tidak sampai. Dahan yang tadi menunduk terangkat oleh angin dan berayun ke samping�kali ini seolah menggeleng-geleng. Lima belas menit berlalu dengan kekosongan. Dahan pohon kembali menunduk.

***

�Maaf Ger, baru balas sekarang. Aku sibuk tadi,� balasan yang ditunggu akhirnya datang. Dengan cepat lelaki itu membalas pesan tersebut.

�Oh.. kamu sibuk apa? Sudah balik dari Medan?� Ia mengirimnya dengan rasa was-was, entah berapa lama lagi SMS itu akan dibalas.

Ponselnya berbunyi lagi. Lekas saja ia membuka dan membaca pesan baru itu.

�Tugas kuliah, belum kukerjakan sejak dikasih dosen minggu lalu. Iya, sudah. Sudah dulu, ya, aku mau istirahat.�

Raut lelaki itu mendadak berubah. �Minggu lalu?� Gumamnya. Berpikir sejenak, lelaki itu kembali menekan-nekan tombol ponselnya. �Kamu sudah lama balik dari Medan? Kenapa nggak ngabarin?�

Emosinya mendadak naik setengah level. Inilah yang membuatnya membenci hari libur. Gery, lelaki muda yang sehari-harinya menjadi mentor mata pelajaran matematika SMA di sebuah lembaga bimbingan belajar, selalu saja bermasalah setiap kekasihnya, Tina, libur kuliah. Entah rasa rindu yang keterlaluan, atau kecemasan yang berlebihan membuat masing-masing dari mereka saling menyentil sesuatu yang akhirnya berubah menjadi masalah besar.

Taman bertambah ramai. Matahari sudah tidak terlalu menusuk dan cocok untuk menikmati aktivitas di luar ruangan. Gery melirik ponselnya, menekan tombol dengan harapan ada SMS yang masuk tanpa ia sadari. Nihil, tidak ada kiriman apapun. Sepi kembali membebamnya, mengisi dadanya hingga ke seluruh tepi. Rautnya murung.

�Om, kok sedih?� suara lugu yang asing mengejutkan Gery. Seorang gadis kecil yang kira-kira hanya sedikit lebih tinggi dari moncong mobil sedan berdiri di depannya. Kulit putih berambut ikal dengan tatapan mata bundar yang polos, pipinya menggemaskan, kaos mungil yang dipakainya ada noda tanah. Barangkali ia sempat jatuh dan mengelapkan tangan di bajunya itu.

�Eh, sini sini.. jangan ganggu si Om,� seorang wanita menarik tangan anak itu. Lalu mengangguk sambil tersenyum ramah kepada Gery. Gery membalas senyuman wanita yang mungkin ibu dari sang anak.

Mendadak Gery teringat Tina yang sangat menyukai anak kecil. Andai Tina bertemu gadis kecil tadi, tentu ia akan merasa senang dan mencubitinya gemas. Gery mencoba membuka twitter miliknya, menulis sesuatu untuk membunuh kebosanan. �Aku ingin menulis sesuatu. Mungkin tentang pipi, rangkul pundak, atau deru rindu yang selalu di puncak.�

Sesekali Gery berpikir bahwa ia dan Tina telah melewati sesuatu yang salah. Entah apa. Sementara senja mulai menunjukkan tanda-tanda kemunculannya. Benak Gery nampaknya lebih dulu terbenam. Ke masa sebelum semua terjadi.

***

�Apa kau menyayangiku?�

�Kamu sudah menanyakannya tiga kali.�

�Biarin, aku selalu merasa bahagia kalau dengar jawabanmu.�

�Lebay! Hahaha��

�Ayolah��

�Iya, aku sayang, Sayaaaaang!�

�Lagi dong..�

�Tuh, kan, kapan selesainya?�

Tina mencengkeram rambut Gery gemas. Gery tak keberatan menerimanya�justru sambil tertawa kecil. Pasangan kasmaran ini menjadi drama manis sendiri di taman kota sore itu. Benar-benar drama, sebab sekelompok anak kecil berjongkok menonton beramai-ramai kemesraan yang menggugah hormon terlalu cepat dewasa mereka kambuh, yang pula dipacu acara televisi yang didikannya sudah menguap entah ke mana.

Gery berjongkok sementara Tina duduk di atas bangku. Persis seperti prajurit yang tengah berlutut kepada Sang Ratu.

�Kamu nggak duduk di sampingku?� tanya Tina seraya mengusap tetesan air kelapa muda yang baru meluncur dari bibirnya ke celana jins yang ia kenakan.

�Apa kamu merasa norak duduk berduaan di tempat ini?� Tina kembali memasukkan ujung sedotan ke mulutnya.

�Bukan jatuh cinta namanya kalau nggak norak,� Gery bangkit dari posisi jongkoknya, kali ini duduk di sebelah Tina. �Aku baru mau duduk kalau ada perintah darimu, Tuan Putri.� Gery memancarkan senyuman dari bibir juga matanya. Tina tersipu masih sambil menyeruput es kelapa di gelas besar berpermukaan seperti tubuh lelaki macho itu.

Angin selalu hadir di setiap jeda napas romansa yang tengah berlangsung. Kali ini menelusup ke sela rambut sebahu Tina dan menyibakkan wangi parfumnya yang kian membuat senyum Gery kian syahdu. Tatapan Gery menjadi lebih teduh dari pepohonan yang mengatapi taman itu.

Hari itu tepat lima bulan mereka meresmikan status pacaran di tempat yang sama. Lima bulan sebelumnya, diawali dari Gery yang menyatakan perasaannya pada Tina dan disambut tanpa ragu oleh Tina yang diam-diam sudah mengagumi Gery sejak lama. Usai saling mengungkap pernyataan, Gery mengambil sebuah batu yang tak terlalu besar, melemparkannya ke jalan raya di depan taman. Tak lama sebuah mobil melindasnya.

�Lihat! Sekejam apapun waktu melindasku, hatiku untukmu akan lebih keras daripada keras kepalaku!� Gery melantangkan rayuannya. Waktu terus berlalu.

�Besok aku ke Medan,� bisikTina tiba-tiba.

�Ngapain?�

�Aku kan sudah libur. Ortu nelpon terus.�

�Oh...�

�Kok lesu? Takut kangen ya? Kan bisa telponan.�

�Bukan, tapi..� �Tapi?�

�Sudahlah,� Gery menyandarkan kepala Tina ke pundaknya. Tak mengacuhkan orang-orang yang mencuri lirik ke arah mereka. Gery sendiri membayangkan hal-hal yang kurang mengenakkan. Ia selalu khawatir setiap hari libur, selalu saja ada topik yang memancing pertengkaran di antara mereka. Dan mereka akan terpisah selama dua bulan.

***

Kecemasan Gery perlahan terbukti. Dua minggu pertama memang berjalan seperti biasa. Percakapan lancar dari telepon atau SMS. Kelamaan nuansa pesan Tina berubah. Tiap ditanya sedang apa, Tina selalu menjawab sedang bersama Jamal dan teman-temannya. Jamal, diakui Tina sebagai orang yang dulu pernah menyukainya. �Tenang, dia sudah punya pacar, kok, sahabatku juga.� Tulis Tina jika Gery mulai menunjukkan tanda-tanda cemburu. �Jamal tadi nembak aku lagi. Padahal sudah punya pacar.� Emosi Gery memuncak, �Aku bukan mesin kendaraan yang harus terus dipanasi agar tetap terawat, Sayang!� Pertengkaran dimulai.

Komunikasi mereka mulai rusak, Gery berkali-kali meminta maaf pada Tina. Ia tak ingin masalah berlangsung lebih lama. Baginya, indikator keberhasilan rasa cintanya adalah ketika rasa sayangnya jauh melambungi segala bentuk kecemburuan. Mereka berbaikan, namun hubungan sudah terlanjur mengeruh. Hingga hari ini.

Waktu kian menundukkan terik hingga senja perlahan semakin muncul di panggung ufuknya. Gery akhirnya tak tahan lagi, ia raih ponselnya dan langsung menelpon Tina. Tiga kali telepon tak ada jawaban. Terakhir, terputus�seperti sengaja diputus. Tiba-tiba sebuah SMS masuk. Kali ini mereka saling berbalasan.

�Kenapa? �

�Angkat teleponku.�

�Jangan sekarang, aku masih agak sibuk.�

�Sibuk apa memangnya?�

�Nanti-nanti saja kuberitahu.�

Gery menarik napas, ia mendadak bingung apa yang sebenarnya hendak ia bicarakan. Sedikit tergugu, lalu mengetikkan sesuatu.

�Apa kau (masih) menyayangiku?�

Waktu berjalan terasa lambat. Langit sudah mulai gelap dengan penerangan dari semburat senja yang jingga. Dua menit, tiga menit, sepuluh menit. Gery mengacak-acak rambutnya. Ia kembali ingin menelepon Tina, tapi yang pasti hanya kesia-siaan. Gelisah semakin mengerubuni tubuhnya seperti tanda-tanda malam yang akan mengerubuni langit. Sedikit-sedikit mengecek ponselnya, tapi takada balasan yang muncul.

�NAAK!� Teriak seorang wanita melengking di taman itu. Spontan Gery menoleh dan menggeser pandangannya ke arah mana ibu tadi memanggil. Anak kecil yang menyapa Gery tadi! Kini ia sudah di tengah jalan. Gery menyebar pandangannya dan mendapati sebuah mobil melaju cukup kencang. Ditaruhnya ponselnya di bangku taman itu dan berlari secepat mungkin ke arah jalan. Tampaknya pengendara mobil tengah melamun dan tak menyadari ada anak kecil berjongkok di tengah jalan. Gery melompat, pengendara panik menginjak remnya. Terlambat.

***

Sirine meraung di bawah langit yang belum lama mengubah statusnya menjadi malam. Wanita tadi menangis memeluk anaknya erat. Seraya melihat ceceran darahyang tumpah. Darah dari lelaki pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya.

�Ini milik pemuda yang tewas itu?� tanya polisi kepada wanita itu setelah menemukan sebuah ponsel di atas bangku.

�Se-sepertinya, Pak.�

�Baik, kalau begitu kita lihat siapa yang terakhir ia hubungi. Kita kabarkan mengenai kecelakaan ini.�

Sebuah pesan singkat belum dibaca muncul ketika polisi baru akan mengeceknya. Dibukalah pesan tersebut. �Dari Tina..� Polisi membaca isi pesan di bawahnya.

�Menurutmu?�

(****)

Lelaki yang Menanti Ponselnya Berbunyi

Oleh Andi M E Wirambara

Punya puisi, cerpen, ataupun artikel yang ingin ditampilkan di CARAOO.com? Kirim saja ke redaksi CARAOO.com di zanabid@live.com. Setiap puisi, cerpen, ataupun artikel yang ditampilkan, akan diikutkan link menuju akun facebook/twitter milikmu.

�Sibuk apa memangnya?�

�Nanti-nanti saja kuberitahu.�

Gery menarik napas, ia mendadak bingung apa yang sebenarnya hendak ia bicarakan. Sedikit tergugu, lalu mengetikkan sesuatu.

�Apa kau (masih) menyayangiku?�

Waktu berjalan terasa lambat. Langit sudah mulai gelap dengan penerangan dari semburat senja yang jingga. Dua menit, tiga menit, sepuluh menit. Gery mengacak-acak rambutnya. Ia kembali ingin menelepon Tina, tapi yang pasti hanya kesia-siaan. Gelisah semakin mengerubuni tubuhnya seperti tanda-tanda malam yang akan mengerubuni langit. Sedikit-sedikit mengecek ponselnya, tapi takada balasan yang muncul.

�NAAK!� Teriak seorang wanita melengking di taman itu. Spontan Gery menoleh dan menggeser pandangannya ke arah mana ibu tadi memanggil. Anak kecil yang menyapa Gery tadi! Kini ia sudah di tengah jalan. Gery menyebar pandangannya dan mendapati sebuah mobil melaju cukup kencang. Ditaruhnya ponselnya di bangku taman itu dan berlari secepat mungkin ke arah jalan. Tampaknya pengendara mobil tengah melamun dan tak menyadari ada anak kecil berjongkok di tengah jalan. Gery melompat, pengendara panik menginjak remnya. Terlambat.

***

Sirine meraung di bawah langit yang belum lama mengubah statusnya menjadi malam. Wanita tadi menangis memeluk anaknya erat. Seraya melihat ceceran darahyang tumpah. Darah dari lelaki pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya.

�Ini milik pemuda yang tewas itu?� tanya polisi kepada wanita itu setelah menemukan sebuah ponsel di atas bangku.

�Se-sepertinya, Pak.�

�Baik, kalau begitu kita lihat siapa yang terakhir ia hubungi. Kita kabarkan mengenai kecelakaan ini.�

Sebuah pesan singkat belum dibaca muncul ketika polisi baru akan mengeceknya. Dibukalah pesan tersebut. �Dari Tina..� Polisi membaca isi pesan di bawahnya.

�Menurutmu?�

(****)

Lelaki yang Menanti Ponselnya Berbunyi

Oleh Andi M E Wirambara

Punya puisi, cerpen, ataupun artikel yang ingin ditampilkan di CARAOO.com? Kirim saja ke redaksi CARAOO.com di zanabid@live.com. Setiap puisi, cerpen, ataupun artikel yang ditampilkan, akan diikutkan link menuju akun facebook/twitter milikmu.

Unknown Cerpen

Cerpen : Teh dan Kepul Kepulangan

cerpen-teh.jpg

Bagi Wirgi, hidup terlampau singkat untuk berlama-lama memajang rengut di wajah. Sebab itu secara otomatis bibirnya senantiasa melengkung menghiasi bentuk wajahnya yang tergolong sempurna untuk disebut sebagai lelaki tampan. Langkahnya tetap tegas memasuki pintu yang lalu disambut oleh petugas bandara dan detektornya.

"Indonesia?"

Pria tinggi berseragam dengan ciri fisik India yang kentara memandangi Wirgi dengan saksama dari ujung kaki hingga ujung kepala sebanyak dua kali. Wirgi tetap dengan senyumnya ditambah dengan sedikit anggukan. Lantas ia memasuki ruangan lebar dengan toko-toko mewah bertebaran dan penuh lalu-lalang manusia usai menerima kembali paspornya dari petugas bandara tadi.

Wirgi seolah-olah telah akrab dengan lekuk dan liku-liku bandara Changi ini. Dengan enteng ia menelusur tempat demi tempat yang biasa ia singgahi untuk membawa oleh-oleh untuk keluarganya di Indonesia. Dan hari ini dia khusus mendatangi kios yang memajang berbatang-batang cokelat dengan manja, menggoda Wirgi untuk memilah-milah sambil membayang-bayangkan ekspresi Efa kala menerima cokelat itu�mungkin diawali dengan wajah terperangah ditandai senyum lebar, meraih cokelat dari tangan Wirgi, mengelus-elus cokelat itu, ditutup dengan peluk girang Efa yang dilingkarkan di kekar tubuh Wirgi. Ini adalah kepulangan pertama Wirgi ke Indonesia dengan status bertunangan dengan Efa. Usai melamar Efa, Wirgi harus kembali ke Singapura untuk kepentingan pekerjaannya selama lebih dari tujuh bulan. Untuknya, itu waktu yang lama sekali. Sangat lama. Sementara rindu terus bercucuran seperti butir mungil keringat yang kerap menghampirinya kala berjalan di bawah langit Singapura yang teriknya kadang menggigit-gigit kulit.

Mata Wirgi menggerayangi rak-rak di mana terpampang bermacam jenis cokelat. Secara spontan Wirgi mengabaikan jenis cokelat yang mengandung alkohol, dan cokelat dengan jenis rasa yang dari namanya saja sudah tampak aneh. Matanya tetap terjaga pada cokelat-cokelat di rak sementara ia melangkah mundur sambil sedikit berjingkat. Langkah kesekian, seorang perempuan menabraknya dari belakang dan sontak membuat keduanya terkejut. Perempuan itu menjatuhkan tasnya.

"Ah, sorry! " ucap keduanya berbarengan. Yang membuat mereka saling berdiam selama beberapa detik. Dari wajahnya, sepertinya perempuan itu berasal dari Jepang atau Korea. Kulit putih yang khas dan bentuk mata agak sipit, juga bentuk hidung dan bibir yang merekah dengan komposisi porsi yang baik membuatnya terlihat sangat cantik. Cantik sekali.

"Kau tak apa-apa� eh, so-sorry, I mean... are you okay?" Wirgi melepaskan diri dari keterpanaan masing-masing tadi dan sedikit kelepasan berbicara dengan bahasa Indonesia.

"Kau orang Indonesia? Ma-maaf, tadi salahku, aku berjalan tidak hati-hati." keterkejutan Wirgi bertambah karena perempuan ini berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik�meski dengan logat yang terasa aneh. Tapi keterkejutan itu Wirgi singkirkan lebih dahulu dengan mengambilkan tas perempuan itu yang tadi terjatuh di lantai.

"Iya. Kau bisa bahasa Indonesia? Kalau boleh tahu, dari mana asalmu?" tanya Wirgi seraya menyodorkan tas tersebut.

"Aku dari Yokohama. Tapi aku sudah cukup lama tinggal di Singapura dan satu kamar dengan orang Indonesia yang juga mahasiswi sepertiku. Soal bahasa, aku yang meminta temanku itu mengajariku. Aku memang suka mempelajari bahasa asing." Wirgi mengangguk paham mendengar penjelasan perempuan Jepang itu.

"Ah, aku duluan, ya. Maaf soal tabrakan tadi." Ucapnya terburu-buru. Setelah membungkuk pada Wirgi, ia membawa tentengan beberapa batang cokelat ke kasir lalu pergi keluar dari kios cokelat itu.

Ketika hendak beranjak melanjutkan pencarian cokelat di antara hamparan cokelat di sekitarnya, mata Wirgi tertahan pada ujung sepatunya. Sebuah bros berkilau tergeletak di sana. Bros hijau mungil yang cantik itu sepertinya berharga karena ada mutiara yang menghiasnya.

Pasti milik perempuan Jepang tadi!

Dengan cepat Wirgi meraih beberapa cokelat secara acak dan membawanya ke kasir, membayar belanjaan. Lalu melesat keluar sambil mengingat-ingat ke arah mana perempuan Jepang tadi pergi.

***

Andai tak menengok jam atau arloji di tangan, sulit membedakan apakah di luar bandara ini siang atau malam. Suasana bandara dengan gaya gedung futuristik nan megah ini begitu lapang kala mendongak ke langit-langitnya. Ada tempat-tempat di pinggir jendela yang langsung menunjukkan pandangan ke pesawat-pesawat yang terbang dan mendarat. Tempat itu dilengkapi sofa, karpet, dan kasur tipis empuk yang disempurnakan dengan beberapa bantal ukuran besar. Tampak serombongan kecil orang Italia berbaring, berleha dan bercakap di sana. Tak jauh dari sana, ada eskalator menuju tempat menunggu terfavorit bagi sebagian calon penumpang pesawat. Komputer-komputer berdiri terpancang rapi berdampingan dengan deretan televisi layar besar lengkap dengan video games yang teramat memanjakan orang untuk menunggu. Dan satu tempat lain tepat di dekatnya, ada foodcourt.

"Ah�. Arigatou! Thank you! Terima kasih!" Seru perempuan Jepang itu dengan girang sambil mengucapkan terima kasih dalam berbagai bahasa seperti mencari mana ucapan yang paling pantas, lalu mendekap benda kecil di genggamannya itu ke dadanya. Seolah-olah itu adalah benda yang lebih penting dari apapun�nyawanya sekalipun. Bros. Bros yang ditemukan Wirgi tadi.

"Untunglah aku menemukanmu di sini." lega Wirgi dengan senyum andalannya sambil menatap ramah gadis di depannya ini. Mereka lalu berbincang dengan tenang meski foodcourt ini penuh sesak dan ramai.

"Ini pemberian nenekku. Aku sempat bingung apa harus kusimpan saja atau kubawa ke mana-mana. Ini sungguh berharga untukku." Perempuan itu memutar-mutar bros itu di jemarinya. Seolah benda itu telah hilang puluhan tahun.

"Pasti kau amat menyayangi nenekmu dan bros itu. Sepertinya sangat terawat."

"Tentu! Ketika kau menyayangi sesuatu, kau akan sangat menjaganya, bukan?"

Pikiran Wirgi mendadak melayang jauh ke negara seberang di mana wajah Efa muncul di kepalanya. Rindu yang menggebu membuat hari ini teramat istimewa. Ia akan pulang dan langsung menyiapkan hal-hal istimewa bersama Efa setibanya di Jakarta. Pernikahan!

"Ah, maaf, boleh akutahu namamu?" tanya Wirgi. Pandangan perempuan itu yang sedari tadi terfokus pada bros, kini mendongak menatap Wirgi. Lalu tersenyum.

"Namaku Takayama. Midori Takayama. Tapi silakan memanggilku Midori." Hangat Midori memperkenalkan diri.

"Namaku Wirgi."

"Wi.. Wi.. Wir�"

"Wirgi."

"Wigi.. Wir.. gi.. Wirgi! Hehehe� Nice to meet you , senang berkenalan denganmu." Midori tampak kesusahan mengeja nama Wirgi.

"Sama-sama, Midori. Ngomong-ngomong, kau akan ke mana?" pertanyaan itu dilontarkan Wirgi bersamaan dengan pelayan yang mengantarkan secangkir teh ke meja mereka. Lalu Wirgi meraih lalu membubuhkannya gula. Mengaduknya.

"Indonesia. Aku akan menyusul teman sekamar yang kuceritakan tadi untuk berlibur di sana. Kupikir menyenangkan ke negara indah itu dengan kemampuan berbahasaku yang cukup lancar." Jelas Midori sambil memasukkan kembali bros tadi ke tasnya. Sementara Wirgi hampir tertawa mendengar kata 'negara indah' yang disebut Midori tadi.

"Indonesia? Jangan-jangan kita satu pesawat?" Wirgi dan Midori pun sama-sama mencocokkan nama pesawat yang akan membawa mereka terbang ke Indonesia. Senyum mengembang kala memastikan bahwa mereka satu pesawat. Bangku bersebelahan pula!

"Nanti kalau ada waktu, kita bertemu lagi ya, di Indonesia." Midori semringah.

"Tentu saja, kau akan kukenalkan pada kekasihku juga. Aku jarang bertemu orang asing seramah dirimu selama di sini."

"Ah, pasti kekasihmu orang paling bahagia dan beruntung bisa bersama pria baik sepertimu!"

Wirgi tersenyum sipu. Sesaat, mereka saling memandang. Lalu mengaduk cangkir teh masing-masing.

***

Midori meneguknya tehnya perlahan. Lalu menarik napasnya dalam dilanjutkan embusan yang amat tenang. Sedang Wirgi menyeruput tehnya secara biasa. Namun melihat Midori yang begitu menikmati tehnya, ia mencoba meniru cara Midori menikmati teh.

"Ah, aku selalu menyukai teh ini." ujar Midori mendadak bicara seolah membaca rasa penasaran Wirgi.

"Aku juga suka teh, tapi hanya sekadar penikmat teh. Aku tak tahu apa beda teh milikku dan milikmu." Wirgi bolak-balik memandangi gelas teh miliknya dan Midori.

"Teh milikku ini jenis sencha , aku membelinya di sana." Tunjuk Midori ke salah satu stan foodcourt yang khusus menyajikan menu-menu asal Jepang.

"Kukira teh hijau ini sangat populer. Apa di Indonesia banyak menjualnya?" lanjutnya. Wirgi menggeleng.

"Mau mencobanya?" Kali ini Midori menawarkan. Dan kali ini Wirgi mengangguk. Midori lalu menuangkan sisa tehnya yang berada di teko ke cangkir Wirgi. Midori segera mencegah Wirgi yang hampir meneguk teh itu cepat-cepat.

"Tak usah buru-buru. Aku biasanya meminumnya sambil mengingat sesuatu�kadang masalahku�dan menghirup aromanya, setelah itu baru meminumnya pelan-pelan. Oh, nikmat sekali!" Wirgi mendengarkan Midori dengan seksama.

Wirgi pun mengikuti apa yang diucapkan Midori. Baru saja mendekatkan wajah ke cangkir, semerbak wangi langsung menyusup ke pernapasannya. Seketika negeri kampung halaman seperti mendadak muncul di pandangan. Senyap ketenangan menggetarkan lidahnya yang mulai mencecap hangat teh yang perlahan-lahan mengalir ke kerongkongannya. Entah karena teh atau racikan Midori yang sedikit menambahkan macam-macam ke tehnya tadi, teh ini terasabegitu nikmat. Begitu kelopak matanya membuka dari pejam, matanya terasa segar. Terlebih di depannya Midori yang baru ia sadari sangat manis dengan poninya yang rapi.

"Midori, apa di bandara ini ada yang menjual teh ini? Sedap sekali! Aku ingin membawanya ke Indonesia."

"Tentu saja." Jawab Midori kembali dengan ramah sambil menerangkan letak kios yang menjual teh tersebut.

"Ngomong-ngomong, pesawat kita berangkat jam dua, kan?" tanya Wirgi untuk memastikan ingatannya pada Midori. Midori mengangguk. Sementara jam di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit.

"Aku mau membelinya." Wirgi bersemangat.

"Baik, aku tunggu di sini saja. Kita naik pesawatnya bersama-sama, kan?" Midori kembali menuangkan teh ke cangkirnya. Wirgi dengan tak sabar menuruni eskalator dan matanya mendelik ke mana-mana mencari tempat menjual teh tadi. Raung speaker�yang entah terpasang di sebelah mana bangunan�tak henti bersahut mengabarkan pesawat yang hendak berangkat, atau meminta calon penumpang masuk ruang tunggu. Hampir tidak ada pemberitahuan keterlambatan pesawat.

Sementara di antara debar-debar yang mendadak muncul tak beralasan di dadanya, rasa girang muncul saat ia melihat bungkus teh yang dimaksud Midori. Ia pun memandangi deretan bungkus teh hijau bertulis huruf Jepang itu. Terbayang kembali sosok Efa. Betapa indahnya jika tiap bangun tidurnya disambut wangi teh yang mengepul di dapur rumahnya, dan yang tengah menyeduhnya adalah Efa! Perempuan yang sangat dicintainya. Dalam perjalanan kembali menemui Midori di foodcourt , Wirgi mendadak teringat untuk menghubungi Faris, sahabatnya untuk menjemputnya di Jakarta bersama Efa. Mengorbankan biaya telepon internasional, Wirgi pun menghubungi Faris.

"Hei, Ris, sekitar setengah jam lagi aku berangkat ke Indonesia. Jemput aku!" terdengar suara tawa dan kata "oke" dari Faris dari speaker ponselnya.

"Jangan lupa bersama Efa, ya!" tambah Wirgi. Usai mengatakan itu, hening mendadak muncul di antara percakapan telepon itu. Faris seperti menahan diri untuk mengatakan sesuatu. Tahu ada sesuatu yang sepertinya tidak mengenakkan, Wirgi mendesak Faris menjawab rasa penasarannya.

Seketika ada henyak yang bertubi menghantam sisi terlembut di benak Wirgi.

***

Ada keheranan mampir di tatapan mata Midori kala melihat Wirgi muncul dari eskalator dengan langkah gontai. Ia pun menutup novel yang sejak tadi dibacanya dan menyimpannya di tas saat Wirgi mulai mendekati meja.

"Kenapa lemas begitu?" Midori langsung menodong Wirgi dengan pertanyaan. Wirgi membalasnya dengan senyum. Senyum yang berat. Midori kian paham ada hal serius yang tertimbun di pikiran Wirgi. Muram yang sepertinya baru muncul karena sebelum Wirgi pergi membeli teh, masih baik-baik saja. Sementara Wirgi masih mencoba melenyap kalimat penyesak dadanya yang mengalir dari suara Faris:

Sebenarnya aku tak ingin menceritakan ini. Tapi, Wirgi, kupikir kamu harus tahu meski pasti kau tak akan percaya. Efa selingkuh! Ya, aku berani mengatakannya seperti itu karena sepertinya hal itu kemungkinannya sangat besar. Bayangkan, beberapa bulan sejak kau pergi ke Singapura, dia sering terlihat bersama lelaki lain. Yang sama! Aku tak mau menegurnya, aku tak mau dibilang ikut campur. Dan terakhir, ia menolak untuk ikut denganku menjemputmu dengan alasan masih ada urusan dan akan menyusul diantarkan temannya. Kau mau aku memata-matainya untuk memastikan 'teman' yang dia maksud?

Wangi teh sencha tiba-tiba membuyarkan lamunan pedih Wirgi. Midori tengah mengayunkan pelan cangkir berisi teh itu di depan hidung Wirgi.

"Ini, tehnya masih ada, minum saja biar pikiranmu sedikit lebih nyaman. Meski yang terlezat tetaplah gyokuro, tapi teh ini cukup lumayan." Midori masih menyodorkan cangkir berisi teh itu pada Wirgi.

"Gyokuro?" Wirgi menjabat cangkir dari Midori. Dan mulai menyeruputnya perlahan.

"Iya, gyokuro, itu teh hijau nomor satu Jepang dengan harga yang sangat mahal. Aku hanya beberapa kali pernah meminumnya bersama ayahku di acara-acara besar. Kalau kualitas sencha dipengaruhi waktu panennya, gyokuro diberi perhatian yang rumit. Dinaungi dalam gelap berminggu-minggu. Namun hasilnya luar biasa!" Midori bersemangat.

Obrolan teh ini cukup sedikit mengalihkan perhatian Wirgi dari sakit hatinya. Sesungguhnya ia sempat emosi waktu mendengar kabar tak mengenakkan dari Faris. Namun Faris satu-satunya sahabat yang paling ia percaya. Sulit tidak mempercayainya dan segenap perhatiannya terhadap Wirgi. Wirgi memandangi kepul-kepulan asap dari cangkir sencha di tangannya. Teh dalam cangkir itu menguap, seperti bayangannya tentang Efa yang kelak akan menyeduhkannya teh, menyeduhkan kehangatan di kehidupannya.

Terdengar suara panggilan yang menyebut nama pesawat dan tujuannya yang akan segera berangkat. Perhatian Wirgi dan Midori tersita sesaat, lalu mereka saling berpandangan.

"Itu pesawat kita, ayo ke ruang tunggu." Midori mengaba-aba. Wirgi bangkit dari kursinya dan melangkah berat. Tak seantusias sebelumnya.

***

Hening memendungi isi kepala Wirgi. Sampai pramugari mengabarkan bahwa pesawat telah memasuki wilayah perairan Indonesia pun, Wirgi hanya meresponnya dengan menengok ke jendela. Hanya ada pemandangan laut. Setelah ini akan ada pulau dengan gedung-gedung tinggi yang mencakar langit yang dihitamkan polusi. Perkataan Faris terus terngiang.

Beruntung, di sebelahnya adalah Midori. Yang selalu punya cara untuk mencoba menghibur Wirgi�meski ia tak pernah menanyakan apa masalah yang tengah dihadapi Wirgi.

"Mau kuminta pramugari membawakan teh?" tawar Midori.

"Ah, tak usah repot-repot." Tolak Wirgi dengan halus. Midori menatap mata Wirgi dalam, hingga Wirgi merasa salah tingkah dipandang seperti itu.

"Kupikir, seseorang sepertimu sama sekali tak pantas sedih. Hidupmu terlalu singkat untuk tidak menikmati kebahagiaan." Midori melayangkan senyum pada Wirgi. Kesekian kalinya, Wirgi terhenyak oleh perkataan Midori.

"Sepertinya pola pikir kita sama."

"Maksudmu?"

"Ya, aku pun berpendapat demikian. Seperti halnya pesawat dan bandaranya, hidup hanya persinggahan. Dan terlalu singkat untuk diisi kesedihan." Ucap Wirgi sambil kembali melengkungkan senyumnya.

"Ah, ini yang aku tunggu. Jadi, kau mau kumintakan teh?" tawar Midori lagi. Wirgi mengangguk dan tersenyum.

Namun mendadak ada goncangan hebat yang serempak membuat panik penumpang. Alur terbang pesawat penuh getaran. Lampu memakai sabuk pengaman menyala, barang-barang pada bagasi di atas bangku terbuka dan berjatuhan. Terdengar suara pilot bersahutan�entah dengan siapa�melalui radio-radionya.

"Emergency landing!" sayup terdengar kalimat-kalimat yang tak lagi diperhatikan semua penumpang yang panik. Teriakan berbaur menggema di seluruh penjuru kabin pesawat. Midori memeluk Wirgi kuat-kuat. Air matanya bercucuran. Pesawat mulai terbang makin rendah. Wirgi memejamkan mata dan mengalimatkan doa-doa.

***

Di tempat lain, di sebuah bandara, terlihat seorang lelaki mengendap-endap memotret diam-diam pasangan laki-laki dan perempuan yang tengah bertatap mesra di sebuah kafe. Lelaki itu memakai kacamata dan jaket hitam hingga hampir sulit dikenali wajahnya. Mendekat, duduk di dekat kedua pasangan itu. Menguping obrolan mereka.

"Ah, sayangku Efa, jadi kapan tunanganmu tiba?"

"Mungkin sebentar lagi. Untunglah bertepatan dengan keberangkatanmu ke Australia. Jadi yang kita lakukan selama ini tetap jadi rahasia."

"Ah, paling nanti kau kangen aku."

Mereka tertawa, perempuan itu mencubit gemas hidung pria di depannya. Sementara di bandara yang sama, di landasan terbang yang lapang dan lengang, sebuah pesawat berhasil mendarat�meski secara kasar�ke landasan yang memang menjadi tujuan pesawat itu, dengan ekor pesawat yang penuh kepulan asap hitam. Asap hitam yang menampakkan kobaran api yang menyala-nyala. Menyala-nyala. (***)

Teh dan Kepul Kepulangan

Oleh Andi M E Wirambara

Punya puisi, cerpen, ataupun artikel yang ingin ditampilkan di CARAOO.com? Kirim saja ke redaksi CARAOO.com di zanabid@live.com. Setiap puisi, cerpen, ataupun artikel yang ditampilkan, akan diikutkan link menuju akun facebook/twitter milikmu.

Unknown Cerpen