Blog Remaja Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Bisnis UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis UKM. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Desember 2012

Tips Budidaya Ternak Itik atau Bebek dengan Benar

budidaya-ternak-itik.jpg

Tips Budidaya Ternak Itik atau Bebek dengan mudah. Sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia bahwa itik merupakan salah satu unggas yang menguntungkan untuk diternakkan. Selain peternak itik yang masih sedikit, juga permintaan pasar untuk daging itik juga terus meningkat. Daging itik dikenal mempunyai tekstur tersendiri dan sangat menggoda bagi para penggemarnya.

Di tanah Jawa, itik biasanya disebut dengan bebek. Di mana orang Jawa biasa mengolahnya dengan citarasa manis maupun digoreng atau dibakar. Di daerah Sumatera, ada masakan itik lado mudo atau bebek cabe hijau yang sudah terkenal akan kelezatan yang ditimbulkannya.

Itik berasal dari Amerika Utara, yang dulunya merupakan hewan liar (Anas moscha atau Wild mallard). Oleh orang-orang Amerika ini kemudian itik-itik tersebut mulai dipelihara dan dibudidayakan hingga jadilah itik ternak (Anas domesticus) yang selama ini kita kenal.

Peternakan itik sudah merata di negara-negara seluruh dunia. Mulai dari Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, sampai Perancis. Umumnya negara yang banyak membudidayakan itik adalah negara yang mempunyai musim tropis dan subtropis. Beberapa daerah peternakan itik yang terkenal di Indonesia antara lain Kendal, Tegal, Brebes dan Mojosari (Jawa), Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai (Kalimantan), dan beberapa daerah di Bali serta Lombok.

Menurut jenis itik yang dibudidayakan, budidaya itik bisa dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :

  1. Itik Petelur : budidaya itik untuk diambil telurnya. Beberapa jenis itik petelur yang terkenal yaitu Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA
  2. Itik Pedaging : budidaya itik untuk diambil dagingnya. Beberapa jenis itik pedaging yang terkenal yaitu Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, dan Cayuga
  3. Itik Ornamental : budidaya itik sebagai kesayangan atau hobi. Beberapa jenis itik untuk hobi seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, dan Wood.

Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari budidaya itik atau bebek ini adalah :

  1. Untuk usaha bisnis UKM dan kerakyatan mandiri
  2. Dimanfaatkan daging, telur, dan bibitnya.
  3. Kotoran itik bisa diolah menjadi pupuk alami
  4. Merupakan kegiatan pengisi waktu di masa pensiun
  5. Mencukupi kebutuhan gizi melalui produk olahan itik

Untuk melakukan budidaya ternak itik, sebaiknya perhatikan aspek kandang ternak itik nanti. Kandang yang bagus adalah kandang yang terletak jauh dari pemukiman warga, mudah dijangkau, dan kondisi lingkungan kandang yang kondusif untuk ternak maupun produksinya. Pastikan juga bahwa lokasi tesebut tidak rawan penggusuran selama beberapa periode produksi.

Ada 5 faktor yang harus diperhatikan oleh setiap peternak dalam mengelola budidayanya. Kelima faktor ini dikenal dengan istilah pancausaha beternak, yaitu (1). Perkandangan; (2). Bibit Unggul; (3). Pakan Ternak; (4).Tata Laksana dan (5). Pemasaran Hasil Ternak. Kelima aspek inilah yang nantinya akan diputar sehingga disebut sebagai periode produksi.

Berikut ini adalah 5 faktor yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan sarana dan peralatan untuk budidaya ternak itik atau bebek :

  1. Persyaratan temperatur kandang adalah 39 C
  2. Kelembaban kandang yang baik antara 60-65%
  3. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
  4. Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu :
    • kandang untuk anak itik (DOD) pada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD
    • Kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok
    • Kandang layar (untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterai (satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi (kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa (masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).
  5. Kondisi kandang dan perlengkapannya Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen

Perhatikan juga bibit ternak itik yang digunakan adalah produk bibit unggulan. Hal ini bertujuan agar hasil yang dicapai nanti bisa maksimal. Adapun beberapa tips memilih bibit itik unggulan adalah dengan membeli bibit itik dari induk itik yang terjamin kualitasnya, memelihara pasangan itik dewasa dan ketika bertelur maka telur tersebut ditetaskan dengan bantuan ayam atau mesin penetas, membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat. Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.

Setelah bibit unggulan berhasil didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan perawatan bibit atau calon induk tersebut. Perawatan Bibit Bibit (DOD) yang baru saja tiba daripembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral. Sedangkan untuk perawatan calon Induk ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 sampai 6 ekor betina.

Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/perkawinan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).

Unknown Bisnis UKM
Senin, 17 Desember 2012

Tips Budidaya Ternak Kelinci yang Benar

budidaya-ternak-kelinci.jpg

Berbicara mengenai budidaya ternak kelinci tidak bisa dilepaskan dari tips bagaimana cara mengembangbiakkan kelinci dengan benar. Dahulu kelinci merupakan hewan liar yang sulit untuk dijinakkan. Barulah sekitar 2000 tahun yang lalu, manusia mulai mencoba untuk membudidayakannya. Umumnya, kelinci yang dipelihara oleh manusia dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan hewan untuk latihan berburu. Kini kelinci sudah tersebar di seluruh dunia dengan varietasnya masing-masing.

Aktifitas budidaya ternak kelinci di Indonesia masih sangat sedikit. Mereka, para peternak kelinci, masih mengandalkan sistem peternakan tradisional. Dengan kata lain budidaya kelinci di Indonesia belum menjadi sentra produksi.

Jika ditinjau dari sistem binominal klasifikasi kelinci berasal dari Ordo Lagomorpha, Famili Leporidae, Sub famili Leporine, Genus Lepus atau Orictolagus, dan Spesies Lepus spp atau Orictolagus spp. Sedangkan untuk jenis kelinci yang umum diternakkan adalah American Chinchilla, Angora, Belgian, Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, dan masih banyak lagi. Untuk jenis kelinci lokal sendiri, sebenarnya berasal dari Eropa yang telah kawin dengan jenis lain, sehingga sulit untuk dikenali. Untuk jenis kelinci pedaging, biasanya digunakan jenis kelinci dari New Zealand White dan Californian. Sedangkan untuk kelinci yang diambil bulunya, maka kelinci Angora adalah pilihannya.

Selain diambil bulu dan dagingnya, budidaya kelinci juga mengambil manfaat dari kotoran-kotorannya. Seperti kita ketahui, kotoran hewan sangat baik untuk dijadikan sebagai pupuk alami. Pun begitu dengan kotoran kelinci ini. Peternak bisa mengambil keuntungan dari pupuk alami kelinci. Selain itu kulit kelinci juga bisa dijadikan sebagai bahan kerajinan dengan nilai jual yang tinggi.

Untuk memulai budidaya ternak kelinci syarat utama yang harus diperhatikan adalah mengenai Lokasi kandangnya. Adapun syarat Lokasi budidaya ternak kelinci yang baik adalah tempatnya dekat dengan air, jauh dari perumahan warga, bebas bau dan gangguan asap, bebas dengan kebisingan, serta terlindung dari predator-predator atau hewan pemangsa kelinci.

Setelah berhasil menentukan Lokasi yang tepat untuk tempat beternak kelinci. Selanjutnya kita akan memulai persiapan sarana dan kandang kelinci. Perlu diketahui bahwa sebaiknya kandang yang nanti digunakan untuk perkembangbiakan kelinci sebaiknya memiliki suhu 21C, sirkulasi udara lancar, serta sistem pencahayaan yang baik minimal 12 jam.

Kandang kelinci yang biasa digunakan untuk beternak terdiri dari tiga jenis yaitu kandang induk betina dengan anak-anaknya, kandang jantan yang mempunyai tubuh berukuran besar, dan kandang anak kelinci yang sudah lepas sapih. Kandang berukuran 70x20 cm dengan tinggi 50 cm bisa menampung kelinci antara 12 ekor betina/10 ekor jantan. Sedangkan untuk kandang anak berukuran 50x30x45 cm.

Menurut bentuknya, kandang kelinci bisa dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :

1. Kandang sistem postal. Kandang jenis ini tidak memiliki pengumbaran dan ditempatkan di dalam ruangan. Kandang sitem postal cocok digunakan untuk kelinci muda.

2. Kandang sistem ranch. Kandang jenis ini dilengkapi dengan halaman pengumbaran.

3. Kandang baterai. Kandang ini mirip seperti sangkar berderet dimana satu sangkar digunakan untuk satu ekor dengan konstruksi berjajar, bertingkat, atau susun piramid.

Untuk perlengkapan kandang yang dibutuhkan adalah tempat pakan dan minum kelinci. Perlu diperhatikan bahwa sebaiknya dalam memilih tempat pakan dan minum ini, gunakan wadah yang tahan pecah dan mudah dibersihkan.

Selanjutnya mengenai teknik pembibitan kelinci dan perawatan bibit kelinci, CARAOO.COM akan mengulasnya lebih mendalam pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk men-share-nya ke facebook, twitter, linkedin, dan gplus artikel budidaya ternak kelinci ini kepada teman-teman Anda. Terima kasih.

Unknown Bisnis UKM
Selasa, 04 Desember 2012

Tips Budidaya Ikan Nila yang Benar

budidaya-ikan-nila.jpg

Anda ingin berwirausaha melalui Budidaya Ikan Nila? Ikan nila adalah salah satu jenis ikan air tawar konsumsi yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Dagingnya yang gurih dengan susunan duri yang tertata rapi membuat mayoritas orang Indonesia mengidolakannya. Selain itu kandungan gizi pada ikan nila juga terbukti bagus untuk pertumbuhan tubuh manusia.

Ikan nila berasal dari perairan Sungai Nil, Afrika yang kemudian dibawa oleh para pedagang zaman dahulu, sehingga kini ikan nila bisa ditemui di berbagai belahan dunia dengan iklim tropis dan subtropis. Ciri fisik ikan nila adalah bentuk tubuhnya yang memanjang dan pipih kesamping dengan corak warna putih kehitam-hitaman.

Secara resmi, bibit ikan nila pertama kali didatangkan di Indonesia pada tahun 1969 oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Bibit-bibit ikan nilai ini kemudian diteliti dan selanjutnya disebarluaskan ke masyarakat Indonesia. Pemberian istilah nila pada ikan jenis ini dilakukan oleh pemerintah melalui Direktur Jenderal Perikanan Indonesia.

Budidaya ikan nila di Indonesia sudah tersebar luas secara merata di semua provinsi. Pada umumnya ikan nila yang ada di Indonesia terdiri dari tiga jenis, yaitu nila biasa (putih kehitam-hitaman), nila merah (putih kemerah-merahan) dan nila albino. Adapun klarifikasi dari ikan nila yaitu berasal dari Kelas : Osteichthyes, Sub-kelas : Acanthoptherigii, Ordo : Percomorphi, Sub-ordo : Percoidea, Famili : Cichlidae, Genus : Oreochromis, dan Spesies : Oreochro Misniloticus.

Manfaat dari ikan nila bagi manusia adalah sebagai sumber protein hewani. Sebab kandungan proteinnya yang cukup tinggi dan sangat disukai masyarakat karena rasanya. Oleh sebab itulah, di Indonesia lahir berbagai menu masakan khas yang berbahan dasar ikan nila.

Untuk melakukan budidaya ikan nila, perhatikan syarat-syarat lokasi kolam ikan nila berikut ini :

  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung dan tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  3. Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
  4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
  5. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus deras.
  6. Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
  7. Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 C.
  8. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA IKAN NILA

Adapun untuk Sarana dan Peralatan yang diperlukan adalah sebagai berikut :

1) Kolam

Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dan sebagainya). Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila antara lain :

a) Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan

Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air berkisar antara 20-22 C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir.

b) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan

Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan (ipukan) antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.

c) Kolam pembesaran

Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:

  • Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual kepada pera petani.
  • Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah. Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25-1,5 cm. Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
  • Kolam pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.

Kolam/tempat pemberokan

Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar1- 1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.

Peralatan atau Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila diantaranya adalah jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco

Unknown Bisnis UKM